Kamis, 03 Januari 2013

Pertemuan Ketiga "TEORI ORGANISASI UMUM"


TEORI ORGANISASI UMUM 1

Konflik

        I.  Pengertian
       Konflik adalah segala macam interaksi pertentangan atau antogonistik antara dua atau lebih pihak.
Secara definitif konflik memiliki pengertian yang berbeda-beda, demikian juga para ahli dalam memberikan definisi konflik tidak ada yang sama, karena sudut pandang mereka yang berbeda. Kata konflik berasal dari kata confligere, conflictum yang berarti saling berbenturan. Arti kata ini menunjuk pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidakserasian, pertentangan, perkelahian, oposisi dan interaksi-interaksi yang antagonis (Kartono, 1998)
       Robbin (1984) menyatakan konflik adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk mengimbangi usaha-usaha orang lain dengan cara merintangi yang menyebabkan frustrasi dalam mencapai tujuan atau meningkatkan keinginannya
       Konflik juga dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kecekcokan maksud antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, berpacu menuju tujuan dengan cara yang tidak atau kelihataanya kurang sejalan sehingga yang satu berhasil sementara yang lainnya tidak, juga merupakan konflik (Kolman & Thomas; Barelson & Steiner dalam Said, 1988) Mastenbroek (1987) melihat konflik sebagai ketentuan yang tidak dapat dijalankan, pernyataan ketidakpuasan, proses pengambilan keputusan yang tidak tepat.
       Terdapat beberapa pandangan mengenai konflik, dari sudut pandang tradisional menyatakan bahwa konflik itu berbahaya dan harus dihindari, karena itu menunjukkan adanya kerusakan fungsi dalam kelompok. Konflik dilihat 3
sebagai hasil yang disfungsional sebagai akibat dari buruknya komunikasi, kurangnya keterbukaan dan kepercayaan diantara anggota organisasi, dan kegagalan manajer untuk memberikan respon atas kebutuhan dan aspirasi dari para pekerja (Gitosudarmo & Sudita, 2000). Pandangan hubungan manusiawi menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang lumrah dan alami dalam setiap kelompok dan organisasi. Karena keberadaan konflik dalam organisasi tidak dapat dihindari, maka konflik tidak harus bersifat buruk, tetapi memiliki potensi kekuatan yang positif di dalam menentukan kinerja kelompok. Sedang pandangan interaksionis menyatakan bahwa konflik tidak hanya dapat menjadi kekuatan positif di dalam kelompok, tetapi justru mutlak perlu bagi kelompok agar dapat menghasilkan semangat dan kreativitas (Muhyadi, 1989; Nimran, 1999).


      II.  Jenis-jenis Konflik
       Jenis-jenis Konflik :
       a. Konflik peranan yang terjadi didalam diri seseorang (person-role conflict)
       b. Konflik antar peranan (inter-role conflict)
       c. Konflik yang timbul karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang (intesender conflict)
       d. Konflik yang timbul karena disampaikannya informasi yang saling bertentangan (intrasender conflict)

      Konflik juga dapat dibedakan menurut pihak-pihak yang saling bertentangan. Atas dasar hal ini , ada 5 jenis konflik , yaitu :
      a. Konflik dalam diri individu.
      b. Konflik antar individu.
      c. Konflik antar individu dan kelompok.
      d. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama.
      e. Konflik antar organisasi

       Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih terhadap satu hal atau lebih. Konflik dapat terjadi dengan tidak sengaja, tetapi ada yang memang disengaja, karena mempunyai tujuan tertentu. Adapun tujuan dari konflik ada berbagai macam,  tergantung situasi dan kondisi yang  menyertai. 
Tujuan konflik adalah untuk:
       a. Mendapat dan memperkuat kekuasaaan atau keuntungan baik pribadi maupun kelompok,
       b. Meningkatkan kemesraan kelompok melalui solusi terbaik, dan
       c. Menimbulkan dinamika pencapaian yang lebih baik.

    III.            Sumber Penyebab Konflik
a.        Adanya tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, ketidakpastian mengenai kebutuhan yang harus dipenuhi, konflik peranan, konflik kepribadian, dan konflik tugas di luar kemampuannya.
b.       Perbedaan peranan (atasan dengan bawahan), kepribadian, dan kebutuhan (konflik vertical).
c.       Individu mendapat tekanan dari kelompoknya atau individu bersangkutan telah melanggar norma-norma kelompok sehingga dimusuhi atau dikucilkan oleh kelompoknya. Berubahnya visi, misi, tujuan , sasaran, policy, strategi dan aksi individu tersebut dengan visi, misi, tujuan, sasaran, policy, strategi dan aksi organisasi.
d.      Karena ambisi salah satu atau kedua kelompok untuk lebih berkuasa, ada kelompok yang menindas, ada kelompok yang melanggar norma-norma budaya kelompok lainnya (konflik primordial)
e.       Karena perebutan kekuasaan organisasi baik ekonomi maupun politik (konflik horizontal dan konflik elit poltitik).

    IV.            Strategi Penyelesaian Konflik
               Konflik Ada 3 strategi dasar :
a.       Kalah –kalah
b.      Menang –kalah
c.       Menang –menang

Beberapa ahli seperti Megginson, Mosley dan P ietri (1986) maupun Owens (1991) menawarkan dua strategi manajemen konflik yang akhir-akhir ini berkembang  cukup  prospektif  dan  dapat  diterima,   mereka  sepakat  bahwa manajemen konflik dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu:
1.       Kebekerjasamaan atau  cooperativeness, 
2.       Kegigihan  atau  assertiveness.  Cooperativeness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan minat pihak lain, sedangkan assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi keinginan dan niat diri sendiri.

        Hendricks (1992) menawarkan lima gaya dalam menyelesaikan konflik, yaitu :
1. Mempersatukan (integrating) dengan gaya ini mendorong tumbuhnya berfikir kreatif,  karena  masing- masing  individu  dapat  mensintesakan  informasi  dan perspektif yang berbeda
2. Kerelaan untuk membantu (obliging), maksudnya dengan menaikkan status pihak lain sehingga pihak lain merasa rela mengalah dan gaya ini bila digunakan dengan efektif akan melanggengkan hubungan antar individu
3. Mendominasi (dominating) gaya  ini tekanannya pada diri sendiri, dimana kewajiban bisa diabaikan oleh keinginan pribadi, gaya ini sering diasosiasikan dengan istilah gertakan
4. Menghindari (avoiding) adalah gaya menghindari dari persoalan
5. Kompromis (compromising)
        
          Secara tradisional Winardi (1994) menyatakan konflik dapat dihadapi dengan cara bersikap acuh, menekan atau menyelesaikannya. S ikap acuh berarti tidak ada upaya langsung untuk menghadapi konflik yang telah termanifestasi, dalam keadaan demikian konflik dibiarkan berkembang menjadi sebuah kekuatan konstruktif atau sebuah kekuatan destruktif. Menekan sebuah konflik yang terjadi menyebabkan menurunnya dampak konflik yang negatif, tetapi tidak berusaha mengatasi, maupun meniadakan pokok-pokok penyebab timbulnya konflik tersebut. Sedangkan penyelesaian konflik terjadi apabila latar belakang terjadinya konflik  diabaikan  dan  tidak  diantisipasinya  kondisi-kondisi  yang  antagonis sebagai penyebab kembali munculnya konflik di masa yang akan datang.

MOTIVASI
      V.             Pengertian Motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Motivasi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
a. Motivasi Fisiologis
b. Motivasi Psikologis.

    VI.            Teori-Teori Motivasi
a. TeoriX dan teori Y Mc Gregor.
    Anggapan-anggapan yang mendasari teori X :
1.       Rata-rata para pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan akan menghindarinya bila dapat.
2.       Karena pada dasarnya pekerja tidak suka bekerja, maka harus dipaksa, dikendalikan, dipelakukan dengan hukuman, dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi.
3.       Rata-rata para pekerja lebih senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung-jawab, mempunyai ambisi yang kecil, keamanan drinya di atas segala-galanya.
b.  Anggapan-anggapan yang mendasari teori Y :
1.       Usaha phisik dan mental yang dilakukan manusia dalam bekerja adalah kodrat manusia, sama halnya dengan bermain atau beristirahat.
2.       Rata-rata manusia bersedia belajar, dalam kondisi yang layak, tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung-jawab.
3.       Ada kemampuan yang besar dalam kecerdikan, kreativitas dan dayaimajinasi untuk memecahkan masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh karyawan.
4.       Pengendalian ekstern dan hukuman bukan satu-satunya cara untuk mengarahkan usaha pencapaian tujuan organiasasi.
5.       Keterikatan pada tujuan organisasi adalah fungsi penghargaan yang diterima karena prestasinya dalam pencapaian tujuan itu.
6.       Organisasi seharusnya memberikan kemungkinan orang untuk mewujudkan potensinya, dan tidak hanya digunakan sebagian.
c. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
    Menurut Maslow ada 5 kebutuhan dasar manusia yang membentuk hirarki kebutuhan, yaitu :
1.       Kebutuhan Fisiologis
2.       Kebutuhan Keamanan
3.       Kebutuhan Sosial
4.       Kebutuhan Penghargaan
5.       Kebutuhan Aktualisasi Diri
d.  TeoriMotivasi Berprestasi Mc Clelland
     Menurut Mc Clelland, seseorang dianggap mempunyai motivasi prestasi yang tinggi, apabila dia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik dari pada yang lain dalam banyak situasi.
     Mc Clelland memusatkan perhatiannya pada tiga kebutuhan manusia yaitu :
1.       Kebutuhan Prestasi
2.       Kebutuhan Afiliasi
3.       Kebutuhan Kekuasaan.
e.Teori Motivasi Dua Faktor Herzberg
    Menurut Herzberg ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dalam organisasi, yaitu pemuas kerja (job satisfier) yang berkaitan dengan isi pekerjaan dan penyebab ketidakpuasan kerja (job dissafisfiers) yang bersangkutan dengan suasana pekerjaan Satisfiers disebar motivators dan dissatifiers disebut faktor-faktor yang higienis.

  VII.            Rangkuman
        Sumber-sumber konflik organisasional sebagian besar merupakan hasil dinamika interaksi individual dan kelompok serta proses –prosespsikologis. Untuk menyelesaikan konflik yang terjadi pimpinan dapat melakukan tindakan alternatif seperti dibawah ini, tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Tindakan alternatif tersebut adalah menggunakankekuasaan, konfrontasi, kompromi, menghaluskan situasi dan pengunduran diri

SUMBER :
lista.staff.gunadarma.ac.id/
staff.uny.ac.id/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar